BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

kalo kamu kawan sayer,klik2 la hokey

Friday, May 15, 2009

email from NURUL HAFIZAH.





Email ini dipetik drpd seorang sahabat, dan
saya forwardkan utk manfaat kpd diri saya dan semua.

Assalamualaikum. .. Semoga bermanfaat..
.... baik utk yang melamar ataupun yg dilamar, ataupun bagi yang sudah berumah
tangga......

Renungan buat yang sedang mencari pasangan
hidup ataupun yang sedang mengemudi bahtera rumah tangga..
Mengapa? Kerana Dia Manusia Biasa ......

Kerana Dia Manusia Biasa ...

Setiap kali ada sahabat yang ingin menikah,
saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai
suami/isterimu?
Jawabannya ada bermacam-macam. Bermula
dengan jawapan kerana Allah hinggalah jawapan duniawi.

Tapi ada satu jawapan yang sangat menyentuh
di hati saya. Hingga saat ini saya masih ingat setiap detail percakapannya.
Jawapan dari salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju
pernikahannya sungguh ajaib.

Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Kemudian
membuat keputusan menikah. Persiapan pernikahan mereka hanya dilakukan dalam
waktu sebulan saja.
Kalau dia seorang akhwat, saya tidak
hairan. Proses pernikahan seperti ini selalu dilakukan. Dia bukanlah akhwat,
sebagaimana saya. Satu hal yang
pasti, Dia jenis wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami.

Trauma dikhianati lelaki
membuat dirinya sukar untuk membuka hati. Ketika dia memberitahu akan menikah,
saya tidak menganggapnya serius. Mereka Berdua baru kenal sebulan. Tapi saya
berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya
menangis lagi.

Sebulan kemudian dia
menemui saya. Dia menyebutkan tarikh pernikahannya.

Serta meminta saya untuk
memohon cuti, agar dapat menemaninya semasa majlis pernikahan. Begitu banyak
pertanyaan dikepala saya. Sebenarnya.. . ..!!!

Saya ingin tau, kenapa dia
begitu mudah menerima lelaki itu.Adaapakah gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa.
Hingga dia boleh memutuskan Untuk bernikah secepat ini. Tapi sayang, saya
sedang sibuk ketika itu (benar-benar sibuk).

Saya tidak dapat
membantunya mempersiapkan keperluan pernikahan. Beberapa kali dia menelefon
saya untuk meminta pendapat tentang beberapa perkara.

Beberapa kali saya telefon
dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That's
all......Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti 2 hari sebelum
pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Pukul 11 malam sehari
sebelum pernikahannya, baru kami dapat berbual -hanya- berdua. Hiruk pikuk
persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kami. Pada awalnya kami
ingin berbual tentang banyak hal.

Akhirnya, dapat juga kami
berbual berdua. Adabanyak hal yang ingin
saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak perkara kepada saya. Beberapa
Kali Mamanya mengetok pintu, meminta kami tidur. "Aku tak boleh
tidur." Dia memandang saya dengan wajah bersahaja. Saya faham keadaanya
ketika ini.

"Matikan saja
lampunya, biar disangka kita dah tidur."

"Ya.. ya." Dia
mematikan lampu neon bilik dan menggantinya dengan lampu yang samar. Kami
meneruskan perbualan secara berbisik-bisik.

Suatu hal yang sudah lama sekali
tidak kami lakukan. Kami berbual banyak perkara, tentang masa lalu dan
impian-impian kami. Wajah keriangannya Nampak jelas dalam kesamaran.
Memunculkan aura cinta yang menerangi bilik ketika itu. Hingga akhirnya
terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini Saya pendamkan.

"Kenapa kamu memilih
dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari baringnya sambil meraih HP
dibawah bantalku. Perlahan dia membuka laci meja hiasnya. Dengan bantuan lampu
LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.

Perlahan dia menutup laci
kembali lalu menyerahkan sekeping envelop kepada saya. Saya menerima HP dari
tangannya. Envelop putih panjang dengan cop suratsyarikat tempat calon suaminya
bekerja. Apa ni. Saya melihatnya tanpa mengerti. Eeh..., dia malah ketawa geli
hati.

"Buka aja."
Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas putih bersaiz A4,
saya melihat warnanya putih. Hehehehehehe. .........

"Teruknya dia ni." Saya
menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ketawa
melihat ekspresi saya. Saya mula membacanya.Saya membaca satu kalimat diatas,
dibarisan paling atas. Dan sampai saat
inipun saya masih hafal dengan kata-katanya. Begini isi suratitu........


********* ********* ********* ********* *********

Kepada Yth ........

Calon isteri saya, calon
ibu anak-anak saya, calon menantu Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya

Assalamu'alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda
tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah
suratini hingga akhir. Baru kemudian silakan dibuang atau dibakar, tapi saya
mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama ............ ...
menginginkan anda ............ ..... Untuk menjadi isteri saya. Saya bukan
siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa.
Buat masa ini saya mempunyai pekerjaan.
Tetapi saya tidak tahu apakah kemudiannya saya akan tetap bekerja. Tapi yang
pasti saya akan berusaha mendapatkan rezeki untuk mencukupi keperluan isteri
dan anak-anakku kelak.

Saya memang masih menyewa rumah. Dan saya
tidak tahu apakah kemudiannya akan terus menyewa selamannya. Yang pasti, saya
akan tetap berusaha agar Isteri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak
kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya
banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi
saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya
hanya manusia biasa.. Cinta saya juga biasa saja.

Oleh kerana itu. Saya menginginkan anda
supaya membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat
bersama-sama sampai mati. Kerana saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti
saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik.

Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya
tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqarah berkali-kali,
dan saya semakin mantap memilih anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda kerana
Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga
sunnah Rasulullah. Saya tidak Berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha
sekuat mungkin menjadi lebih baik dari sekarang ini.

Saya memohon anda sholat istiqarah dulu
sebelum memberi jawaban pada saya. Saya beri masa minima 1 minggu, maksima 1
bulan. Semoga Allah ridho Dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu'alaikum Wr Wb

************ ********* ********* *********
Saya memandang suratitu
lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat'lamaran'
yang begitu indah.

Sederhana, jujur dan
realistik. Tanpa janji-janji yang melambung dan kata yang berbunga-bunga. Suratcinta
biasa.

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia
menatap saya dengan senyum tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia......?"

"Kerana dia manusia biasa....... .
" Dia menjawab mantap. "Dia sedar bahawa dia manusia biasa. Dia masih
punya Allah yang mengatur hidupnya.

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi
dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi
pada kami kemudian hari.
Entah kenapa, justru itu
memberikan kesenangan tersendiri buat aku.."

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya
hari ini belum tentu besok masih ada. betuI tak? Paling tidak.... Aku tau bahawa
dia tidak akan frust kalau Suatu masa nanti kami jadi miskin.

"Ssttt...... ." Saya menutup
mulutnya. Khuatir kalu ada yang tau kami belum tidur. Terdiam kami memasang
telinga.

Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar
tembok. Kami saling berpandangan lalu gelak sambil menutup mulut masing-masing.

"Udah tidur. Besok kamu mengantuk, aku
pula yang dimarahi Mama." Kami kembali berbaring. Tapi mata ini tidak
boleh pejam. Percakapan kami tadi masih terngiang terus ditelinga saya.

"Gik.....?"

"Tidur...... Dah malam." Saya
menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia kelihatan cantik
besok pagi. Rasa mengantuk saya telah
hilang, rasanya tidak akan tidur semalaman ini.

Satu lagi pelajaran dari
pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sedar dengan kemanusiannya.
Sedar bahawa ada hal lain yang mengatur Segala kehidupannya. Begitu juga dengan
sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah terpahat sejak ruh ditiupkan dalam
rahim. Tidak ada seorang pun yang Tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya
kelak.

Lalu menjadikan proses menuju pernikahan
bukanlah sebagai beban tetapi sebuah 'proses usaha'. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta,
tahta dan 'nama'.

Status diri yang selama
ini melekat dan dibanggakan (aku anak orang ini/itu), ditanggalkan.

Ketika segala yang 'melekat' pada diri
bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi kerana
Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan segalanya pada Allah yang
membuat senarionya.

Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati
setiap HambaNYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah
yang mampu menyegerakan Sebuah pernikahan.

Kita hanya boleh memohon keridhoan Allah.
MemintaNYA mengurniakan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang
akan menjaga ketenangan Dan kemantapan untuk menikah. Jadi, bagaimana dengan
cinta?

Ibu saya pernah berkata, Cinta itu proses.
Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu dapat bersemi dengan indah
menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Cinta tumbuh kerana suami/isteri
(belahan jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua
manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar
biasa. Amin.

Wallahu 'alam


* Kalau rajin.. Tolong sebarkan petunjuk
ini kepada saudara Muslim Muslimat yang lain. Ilmu yang bermanfaat ialah salah satu
amal yang berkekalan bagi Orang yang mengajarnya meskipun dia sudah mati.

"Life
without friendship is like the sky without sun..."

Apabila nafsu dikuasai syaitan, insan
menjadi haiwan dan jiwa mulai akan tertekan. Di sini teman diperlukan untuk berkongsi
pengalaman, disini..





1 lovely comments:

Anonymous said...

along
lm la x borak ngn ko
bz sgt ke weh??

-yana-